Cerpen

Pangeran Angin

Langit menghitam sejak pagi. Awan bergulung berat, seolah menyimpan kemarahan yang siap tumpah kapan saja. Angin meraung tanpa henti, mencabut pepohonan, merobek atap rumah, dan membawa ketakutan ke seluruh negeri.

Di tengah kekacauan itu, rakyat hanya bisa menyebut satu nama dengan harapan yang tersisa: Xi Feng — sang Pangeran Angin.

Namun di dalam istana, Xi Feng justru berdiri kaku. Tatapannya kosong ke arah jendela, melihat badai yang semakin menggila.

“Aku… tidak mengerti lagi,” gumamnya pelan.

Sejak kecil, ia selalu merasa dekat dengan angin. Ia bisa berlari secepat hembusannya, bahkan seolah menyatu dengannya. Tapi kali ini berbeda. Angin terasa asing—liar dan menakutkan.

Jeritan rakyat terdengar hingga ke dalam istana. Hatinya bergetar.

“Apa gunanya aku disebut Pangeran Angin… jika aku tak bisa menghentikan ini?”

Ia terdiam sejenak. Ingatan lama muncul kembali—seorang kakek tua di tengah hutan pernah berkata:

"Jangan mencoba menguasai angin. Dengarkanlah… maka kau akan memahaminya."

Xi Feng mengepalkan tangannya. Namun akhirnya, ia berlari keluar. Angin langsung menghantam tubuhnya dengan keras, hampir menjatuhkannya. Tapi ia tidak berhenti.

Dengan tekad yang tersisa, ia mendaki gunung tertinggi—tempat badai berasal.

Langkah demi langkah terasa berat. Nafasnya tersengal. Tubuhnya hampir tidak sanggup melawan terpaan angin.

Sesampainya di puncak, badai tampak seperti makhluk hidup—berputar, mengaum, dan siap menelan segalanya.

Ia jatuh berlutut.

Namun kali ini… ia tidak melawan.

Perlahan, ia memejamkan mata.

Ia berhenti berusaha mengendalikan angin. Ia hanya mendengarkan.

Di balik suara gemuruh yang memekakkan, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda… bukan kemarahan… melainkan kesedihan yang dalam.

Angin itu terluka.

Xi Feng membuka matanya, napasnya perlahan menjadi tenang.

“Aku mengerti…” ucapnya lirih. “Kau tidak ingin menghancurkan… kau hanya ingin didengar.”

Ia berdiri, lalu mulai bergerak mengikuti arah angin. Tubuhnya tidak lagi kaku, melainkan selaras. Seolah ia menari di tengah badai.

Perlahan… badai itu mereda.

Angin yang tadinya mengamuk berubah menjadi hembusan lembut. Awan mulai terbuka, memperlihatkan cahaya yang lama tersembunyi.

Di bawah, rakyat menatap langit dengan tak percaya.

Xi Feng turun dari gunung dengan tubuh lelah, namun wajahnya tenang.

Seorang anak kecil mendekatinya.

“Pangeran… apakah kau mengalahkan badai?”

Xi Feng tersenyum tipis.

“Aku tidak mengalahkannya,” jawabnya. “Aku hanya… belajar mendengarkan.”

Sejak hari itu, Xi Feng tidak lagi dikenal karena kecepatannya, melainkan karena kebijaksanaannya.

Bahwa kekuatan terbesar bukanlah melawan, tetapi memahami.

Posting Komentar